Pos

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

Episode Mimpi

Kita sama-sama saling berbaur di mimpitapi kau berpapasan hampa dengankutanpa ada isyarattanpa ada kasih
hingga kini mimpi yang dulu ku kenal tak lagi memberi bentuk rasa yang samaatau aku yang terlalu munafik
jika mimpi ini masih kau dewimaka ku biarkan kau berkuasaberkuasa atas hidup mati pikirkujika itu bukan lagi kaumaka aku akan terbangun dalam bentuk alphabetPilu
Dan jadikanlah aku debu tanpa ada arah tetap. Seketika itu ia menatap dengan tatapan nanar kearah yang entah berlawanan atau mengikuti arah yang selalu membuat hati ini luluh menjadikanmu satu. aku selalu bersiteru untuk terus mendapatkan kamu dalam keadaan utuh atau setengahnya. Hanyalah kepadamu aku bisa mengartikan cinta tak bersyarat tanpa ada beban kalbu sedikitpun. Kau hanyalah gerbang yang akan ku ketuk dan ku buka setelahnya dan selamanya. Perihal yang membuat aku semakn seperti memupuk kata rindu yang kian menumpuk seperti tumpukan gunung berbalut kasih. Adalah senyum, nafasmu, matamu, hidungmu, dan caramu membala…

Aku dan minoritasku . . . .

Halo …. Sudah lama nih gue gak berbagi cerita, gue malah sering ngepost puisi atau entahlah apa itu gue juga gak ngerti. Oh iya biasanya di pertengahan bulan puasa seperti ini pasti lagi banyak-banyaknya godaan entah itu untuk ngebatalin puasa atau malas untuk tarawih. Tapi buat gue itu semua hanya cobaan yang tidak ada artinya (sumpah ini serius?), karena puasa kali ini bareng keluarga…Dua minggu yang lalu gue di undang sama pacar gue untuk datang di pengajian awal ramadhan di rumahnya . ini merupakan tantangan terbesar yang akan merubah pergerakan kehidupan makhluk bumi dalam ber-asmara. Ngerti gak? Gue juga gak ngerti jadi lupain saja. Malam sebelum tragedi yang menyangkut hidup dan mati seonggok makhluk ini, pacar gue bilang gini ‘besok malam ada pengajian di rumah, datang yah!’ gue agak kaget ngedengernya,gue mencari alasan yang pas buat menghindar. trus gue jawab ‘ ah malas ah, gak enak sama keluarga kamu, lagian itu kan acara keluarga’ tiba-tiba mamanya nyaut entah dari mana a…

Episode Tertinggal

Ranah rembulan memberi sedikit rinduFana ini membuat dunia baru, dunia piluJauh sebelum kau menjadi bulir debuTlah ku teteskan sanubari bisu
Semakin kau menjejakSemakin ku seperti pohonMenunggu, hatiku, tuturkuAkarnya masuk dalam menghujam jantungDetak terhenti, sendu tiada arti
Meninggalkan udara kering berbungkuskan kenanganDihanyutkan tanpa batas dan alas sesalSenyum bukan sedih, tak lagi menjadi senjaHingga aku menapaki lembab basah yang baruSedangkan esok, alam menanti . . .

Triyan Arief Wibowo

Episode Obsesi

Obsesiku akan dirimu seperti berbisik pada anginMenjadi kalbu hingga kau terjagaSiklusnya berubah-ubah hingga aku terlelapTapi tetap sama, hingar bingar detak jantungStatistik…..
Tak kau sadari bahwa rantingnya merebah,Kesetiap kesenyapan jika kamu memintaKesetiap jingga jika kau bertanya
Aku akan tetap di posisi seperti iniTidak teranggap kian kasih meninggalkanku Ku tersenyum di iringi ringannya air mata
Sejak awal,Kau sudah memenangkan perang khianat seperti iniTerimakasih obsesi senyum palsu

Triyan Arief Wibowo

Episode Harap

Di awali dengan harap yang kian merasuk sukmaMeracuni hingga kau tak sabaranUntuk kau aromai setiap senti tawarnya hati iniKu sebut ini harap
Waktu dan ruang kita sudah berbedaTerpisah tapi bersatu akan harap Menanti dalam keadaan TanyaKu sebut ini penantian
Kau menapaki jauh dan membelakangi arah kuKian kau mengambang laksana hantuSedangkan aku telah dikenali harap palsumuKu sebut ini kecewa


Triyan Arief Wibowo