Episode Hujan

*putar backsong-nya yah disini : 


Surat lagi untukmu Putri, 


Terimakasih buat kamu yang telah mengajariku banyak hal.Mengajariku tentang bagaimana untuk mengenal hidup dan mengimbangi walau terkadang banyak hal di dunia ini yang tak imbang.Mengajari untuk tetap mengenal kasih lebih dahulu dari pada menyempatkan untuk menyapa sebaris kata sayang buatmu.Terima kasih juga buatmu yang selalu membimbingku untuk memilih jalan yang tepat, yang selalu membantu memilah mana kebutuhanku dan mana keinginanku, juga yang selalu mengomentari cara berpakaianku yang berantakan, yang selalu mengingatkanku untuk makan tepat waktu, jam tangan yang kamu beri masih ku pakai, bunyi alarm untuk selalu makan tepat waktu dan juga untuk tidak meninggalkan waktu Sholatku masih selalu berbunyi.

Oh ya put kamu gak usah khawatir lagi karena sebelum aku menulis surat ini aku sudah makan malam, jadi kamu tidak perlu memasang muka cemberut dan terus menarikku untuk makan.aku sudah mulai ngantuk nih put, udah gak sabar untuk bertemu denganmu lagi, tunggu aku yah :)




Aku merindukan sesuatu yang hampa,
sesuatu yang selalu gagal terjamah walau hanya seuntai bayang
Rindu itu adalah hujan yang menjejak kecil di jendela 
sedangkan aku sedang di sibukan untuk melihat, 
apakah yang kabur kaca jendela itu atau ceruk mataku yang basah

Cinta itu masih ku beri nama ia hujan, bergulir lembut dengan rintik kasih
menjelma di persimpangan yang bergumul dalam sepi dan melawan sunyi dengan bermimpi
dikarenakan kamu mimpi, aku lebih menyukai malam dari pada fajar
karena aku tidak menyukai saat ku terbangun dalam kesendirian menjelang keacuhan

Hingga kini Putri, aku masih melingkarkan cincinmu di jariku
berharap sebaris masa lalu kita kembali, masa lalu yang membuat kita berhujan kasih

jelajah kaki ini tak terhitungkan lagi seberapa jauh aku telah berjalan
dalam malam, bintang jatuh menyapaku
dalam siang, panas menyengat menyapaku
dalam hujan, air pun enggan melekat padaku
dan dalam jejak . . kaki ini sudah tak berdaya

Kini cinta itu, sengaja tak kunamai. hingga kita bersatu di Surga nanti. 
karena mungkin buatku ia seperti laut yang surgawi. 
juga seperti hujan yang riuh membasahi pipi.

Sebelum tidur, aku ingin mengecup keningmu lewat prosa ini. Ayo, sekarang pejamkan matamu sebentar saja, karena aku akan tiba disana memelukmu erat. Selamat malam sayang, selamat tidur perempuanku, aku akan terus menghitung setiap detik yang berkurang, sampai kita dipertemukan kembali.



Triyan Arief Wibowo

Komentar

  1. wah, analogi cinta dengan hujan ya Bang...
    Lagi kasmaran ya Bang? =D

    BalasHapus
  2. rindu hanya menciptakan sendu
    mencampakkan waktu dalam kalbu
    hujan itu bisu, namun cukup membuat kau tersipu..

    mampirrrr yiieep :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. menjejaklah kamu membuat jarak
      hingga punggung tak terlihat oleh aksara
      karenamu ku buat ruang sendu di bilas hujan

      udah boot :D

      Hapus
  3. sabar ya bang, gua ikutan mellow nih :(

    BalasHapus
  4. good photograph with a nice poetry :)

    BalasHapus
  5. tunangan lo meninggal?

    itu kisah nyata? atau sekedar puisi?

    sumpah meloww...daleemm broo...>.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua postingan #episode fiksi, gue hanya mencoba menuangkan perasaan saja bro.
      makasih :')

      Hapus
  6. meresapi--- dalem pisan euy,

    BalasHapus
  7. Gile..bikin galau bgd niyh..didukung ma backsoundx yg ga nahan..
    Salam knal yah..w blogger pemula..hehe
    Two thumbs up lah..bwt lw..hehe

    BalasHapus
  8. ahhh nusuk banget sob :) , tetep tegar....

    BalasHapus
  9. dalem banget....
    ikutan jadi mellow...
    semangat kakak!

    BalasHapus
  10. Baca postingan ini tuh sukses bikin hujan turun... :')
    Teringat ketika saat itu datang... :)
    Semoga bisa bertemu kembali di surga nanti... :')

    BalasHapus
  11. kunjungan gan,bagi - bagi motivasi
    Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama dipikirkan adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
    ditunggu kunjungan baliknya yaa :)

    BalasHapus
  12. turut perhatian..sedih amat ni..
    syukur kamu bisa nulis surat untuk dia...

    BalasHapus
  13. turut bersedih kawan
    salam kenal dari pojokkan kalibayem Jogja

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

AutoText or AutoAlay?

anomali rasa

cinta satu arah