Pos

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Kertas dan waktu part 5

Coffe toffee. 15.37 WITA
♪♪I need to know what's on your mind
   These coffee cups are getting cold
   Mind the people passing by, They don't know I'll be leaving soon
   I'll fly away tomorrow, To far away
   I'll admit a cliché, Things won't be the same without you ♪♪
                Alunan lagu Adhitia Sofyan – Adelaide sky mendominasi ruangan kafe yang hanya dipenuhi oleh beberapa orang di sekitar sudut ruangan. Sore itu tampak lebih pekat dari biasanya, mendung dan sedikit rintik hujan membasahi jendela kafe. Aku masih menyibukkan diri dengan mengaduk coklat yang sudah mulai dingin tanpa menghiraukan ocehan Dana. Sesekali memalingkan pandangan ke arah jendela yang sudah dibasahi oleh rintik hujan.
                “Bagaiamana hubunganmu dengan Maya? Kelihatannya kalian makin klik aja.”
                Aku yang ditanya masih berdiam seperti sedang menerjemahkan sesuatu yang sulit untuk ku cerna. Cuaca seperti ini yang selalu membuat aku nampak lebih melankolis da…

Kertas dan Waktu Part 4

Aku sudah berada di luar ruangan kelas tapi tampak Pak Sutar masih saja mengoceh tentangku. Aku duduk di bangku depan ruang kelas dan melihat sekeliling. Terasa sepi sekolah ini, semuanya disibukkan dengan mata pelajarannya masing-masing. Daripada aku hanya berdiam diri seperti ini lebih baik ke perpustakaan saja sambil baca buku atau mungkin tidur, inisiatifku untuk sedikit menyemangati diri sendiri.
             Saat melewati lapangan basket, aku tersadar ternyata ada kelas olahraga. Mereka sepertinya sedang latihan teknik dasar bermain bola basket. Dulu aku juga pernah ikut tim basket smp tapi setelah masuk sma minatku mulai menurun dan sekarang yang masih aktif cuma Dana saja. Dia sering mengajakku untuk bergabung tapi aku masih belum mau menerima tawarannya untuk bergabung di tim basket sekolah. Entahlah mungkin aku yang terlalu malas untuk mengikuti kegiatan seperti itu lagi.
                Sesampainya di perpustakaan aku langsung berjalan ke arah rak buku tent…

kertas dan waktu part 3

Keesokan harinya aku sengaja datang lebih awal. Hari ini aku tidak menjemput Maya karena dia pagi ini diantar ayahnya. Aku hanya sedikit penasaran dengan cewek perpus yang kemarin itu dari kelas mana, hal itu membuatku bertanya-tanya dari kemarin. Aku melihat jam tanganku, waktu masih menunjukan pukul setengah tujuh pas. Selagi mengawasi pintu gerbang sekolah dari depan kelas, aku memutar mp3 dan menyumbatkan telingaku dengan headset. Lagu di playlist pertama adalah Lovarian – Perpisahan Termanis. Oh pagi terasa random dengan lagu ini. Tapi aku menikmatinya.
Tak berapa lama menunggu akhirnya cewek perpus itu muncul dari gerbang masuk sekolah. Dari kejauhan terlihat tangan kanannya sedang menenteng tas plastik dan tangan kirinya memegang buku yang didekap di dadanya. Semakin terlihat kalau dia seorang siswi kutu buku walau dia tidak berkacamata. Masih mending sih dari pada siswi kutuan. Aku berlari kecil ke arahnya sambil melepaskan headset yang dari tadi masih memutar lagu perpisahan…

kertas dan waktu part 2

Semakin akrabnya aku dengan Maya, membuat aku semakin percaya diri untuk menyatakan rasa sayang. Lebih tepatnya untuk nembak Maya. Tapi masih ada rasa ketakutan kecil yang bersemayam dipikiranku, kalau misalnya Maya menolakku dengan alasan “aku udah anggap kamu seperti sahabat aku sendiri”. Sakitnya dobel, men.
                Tepat tanggal 1 oktober lebih tepatnya pada saat itu adalah hari kesaktian pancasila. Aku menyatakan perasaan kepada Maya. Aku sengaja mengajak Maya ke perpus yang agak tenang suasannya. Karena di luar kelas dan di dalam kelas lagi pada rame ngerayain hari kesaktian pancasila itu. Dengan backsong lagu nasionalis yang diputar guru bp dan terdengar sampai seluruh penjuru sekolah membuat semangatku berkobar untuk menyatakan perasaan pada maya. Walau memang tidak ada korelasinya sama sekali antara lagu itu dengan perasaan ini.
                “tumben kamu ngajak aku ke perpus, mau diajarin aritmatika? Hehehe”
           “sebenernya ada hal penting …

kertas dan waktu

Catatan kertas waktu ~ (Fiktif)
“Aku sedang berusaha menggali ingatan terjauhku tentang dirimu….” Aku hanya bergumam sendiri di sebelahmu tapi kamu masih terdiam, mungkin kamu masih marah padaku.
“lagi-lagi air mataku, ah… aku cengeng banget ya kalau ada di sebelahmu seperti ini. Ya udah, aku pulang dulu yah. belum sempat ganti baju seragam nih ntar mama marah-marah lagi seperti yang kemarin-kemarin. Bye” aku meninggalkannya yang masih terdiam sendiri.
Aku adalah Arya seorang cowok yang basa-biasa saja. Aku adalah tokoh utama dalam kehidupanku sendiri. Umurku sekarang telah beranjak enam belas tahun, iya aku sudah bukan anak-anak lagi, yang pastinya aku tidak mau lagi dikatai cinta monyet ketika sedang menyukai seorang wanita. Ini adalah ceritaku di masa putih abu-abu yang kata orang sih gak akan terlupa. Ya mungkin aja yang bilang gitu karena masih ada hutang di kantin sekolah atau pernah ditolak sewaktu sma dulu hehehe.
Dana, dia adalah sahabatku sejak di bangku sekolah dasar dia s…

yang gak seharusnya dipikir sih

Gue udah merombak template lagi nih, ini pergantian template yang ke… entah yang keberapa. Kali ini gue ganti template dengan satu kolom aja biar terlihat lebih simple karena harapan gue buat para visitors yang datang ke blog gue cuma satu yaitu baca. Jadi kalau misalnya ada yang nyari aplikasi untuk didonlot atau ada yang nyari obat kuat atau apalah yang berhubungan dengan begituan di blog gue berarti anda salah tempat. Komen dong tentang template gue yang baru hehehe. Sapa tau ada yang bisa kasih masukan lebih bagus J. Oh iya ternyata ada dua blogger yang udah menyadari kalau gue ganti template dan komen dipostingan kemarin, thanks ya perhatiannya :D untung lo berdua cowok coba kalau cewek udah gue cipok. Hahaha
Ketika gue lagi nulis postingan ini,gue lagi makan di kfc. Sebenernya gak ada niat untuk makan disini karena pertama gue niatnya menikamti sore hari di café biasa gue nongkrong sambil nulis. Tapi café-nya tutup dan entah mengapa antara dorongan hati atau perut yang bisa mem…

episode kesengajaan

Gambar
Diawali dengan meneruskan kalimatmu tanpa sengaja lalu menghafalkan kebiasaanmu yang kemudian menjadi kebiasaanku juga…. Bersama kita terlelap, bersama kita merangkai mimpi indah kita walau dengan akhir yang berbeda. Semua terlepas dari kendali kita berdua kasih…


Cinta tetaplah cinta, tanpa aku, kamu, dan kejadian yang membuat kita secara tidak langsung saling mengenal, Bagiku itu bukanlah sebuah awal, Melainkan akhir, Iya sebuah titik akhir di mana aku tidak lagi bisa menemukan yang lebih, Dan yang bisa membuat perhatianku tercuri lagi.
Bagiku saat itu adalah akhir buatku, Untuk terus bertualang menemukan yang satu, Satu akan kesetiaan dan ketulusan, Kalau saja aku masih bisa menentang semua konspirasi yang ada mungkin tidak seharsunya aku berkata cinta pada dia yang ada, pada dirimu yang nyata.
Jangan lagi kau berdecak resah akan kehadiran angin tanpa isyarat itu, Biarlah aku menemani setiap detak dan setiap embun yang tercipta karena kesengajaan kasihmu, Aku di sini bukanlah karena lang…

Edotz dan Cancut Marut

Ehem, iya ini adalah postingan pertama di blog gue tentang nge-review sebuah buku. Apalagi buku pertama yang gue review adalah buku yang penuh dengan ke-absurd-an.
Awal pertama gue ngeblog, sewaktu baru belajar ngetik yang bener *emang sih sekarang masih gak bener* gue udah kenal sama seorang blogger yang rajin banget komen di setiap postingan di blog gue. Bukan hanya ninggalin komen bahkan dia juga rajin ninggalin upilnya dimana-mana. Dari situ gue mulai kenal siapa dia? Dia dimana? Semalam berbuat apa? . dia adalah cowok yang tidak pernah merasakan ganteng sejak lahir yaitu Edo Trie Hadi Saputra atau yang lebih dikenal dikalangan tukang becak dengan nama Edotz Herjunot.

CANCUT MARUT adalah buku pertamanya yang berhasil dia rangkum dari pengalaman hidupnya yang kecut sebagai mahasiswa calon guru. Dibukunya ada 5 bab dengan 31 cerita absurd didalamnya. Pertama kali nyari buku ini di Gramdia gue sempet nanya ke mbak-mbak pramuniaganya.

                “Mbak ada buku cancut marut?”

   …