Kertas dan waktu part 5


Coffe toffee. 15.37 WITA

♪♪ I need to know what's on your mind

   These coffee cups are getting cold

   Mind the people passing by, They don't know I'll be leaving soon

   I'll fly away tomorrow, To far away

   I'll admit a cliché, Things won't be the same without you ♪♪

                Alunan lagu Adhitia Sofyan – Adelaide sky mendominasi ruangan kafe yang hanya dipenuhi oleh beberapa orang di sekitar sudut ruangan. Sore itu tampak lebih pekat dari biasanya, mendung dan sedikit rintik hujan membasahi jendela kafe. Aku masih menyibukkan diri dengan mengaduk coklat yang sudah mulai dingin tanpa menghiraukan ocehan Dana. Sesekali memalingkan pandangan ke arah jendela yang sudah dibasahi oleh rintik hujan.

                “Bagaiamana hubunganmu dengan Maya? Kelihatannya kalian makin klik aja.”

                Aku yang ditanya masih berdiam seperti sedang menerjemahkan sesuatu yang sulit untuk ku cerna. Cuaca seperti ini yang selalu membuat aku nampak lebih melankolis dari biasanya ditambah lagi alunan lagu favoritku yang terdengar makin mendominasi ruangan kecil itu.

                “Woi ditanya malah bengong, kesambet baru tau rasa nanti!” Dana mengagetkanku dengan jitakannya tepat di kepalaku.

                “Ah kampret! Kenapa sih?”

                “Aku tadi tanya, kamu dengan Maya gimana hubungannya?”

                “Ya gitu..”

                “Gitu gimana? Tapi kalau aku lihat sih kalian baik-baik aja di sekolah, malah kelihatan tambah mesra aja walaupun udah gak sekelas lagi”

                Sekarang kami sudah kelas dua, bahagia sih tapi aku juga merasa sedih karena tidak lagi sekelas dengan Maya. Aku berada di kelas ilmu alam dua sedangkan Maya berada di ilmu alam satu. Ada juga rasa canggung lainnya ketika aku tau bahwa Fila berada di ilmu alam tiga. Kelas kami berderet diantara dua ruangan kelas lainnya, tepatnya kelasku berada di antara kelas Maya dan juga kelas Fila. Pertemuanku dengan Fila sudah sangat jarang lagi, terakhir kali saat di perpustakaan. Setelah itu dia sudah jarang aku temui di sekolah lagi hingga kenaikan kelas dan pembagian kelas baru aku melihatnya lagi. Seperti ada yang berubah dengan dirinya tapi aku tidak begitu memperhatikannya. Oh iya nilai matematikaku bagus, aku mendapatkan nilai Sembilan di raport. Belakangan ini aku baru tau mengapa Pak Sutar begitu keras mendidikku saat kelas satu, ternyata semua memang berguna dan hasilnya sekarang aku mendapatkannya.

    ♪♪ I have been trying lately to close my eyes, Those little lambs complaining they're getting tired ♪♪         

Nada dering telpon yang masih belum ku ganti semenjak kelas satu dulu membuatku terkaget. Ternyata Maya, gumamku.

“Halo May, ada apa?”

“Sayang kamu dimana? Oh iya minggu depan ada hari spesial loh”

“Lagi di kafe biasa, dengan Dana nih. Hari special? Hari spesial apaan?” Aku mengernyitkan dahi sembari mencoba mengingat-ingat sesuatu.

“Iiiihhh masa kamu gak inget? Itukan hari jadi kita. Gak kerasa udah setahun loh.”

“Oh iya yah aduh ingatanku kenapa bisa separah ini. Iya aku inget sekarang, ehm gak kerasa udah setahun ya.” Belum selesai pembicaraanku sudah dipotong Maya di seberang telpon.

“Kita nanti rayain ya. Kita berdua aja. nanti aku telpon lagi ya, ini mama lagi manggil-manggil daritadi. Bye sayang.”

Tut…tut…tut….

--O--

                Ini adalah kali pertama aku bisa bertahan pacaran sampai setahun dan ini juga untuk pertama kalinya aku sendirian berusaha memilih kado buat lusa hari jadi kami. Kalau tiga bulan yang lalu sih aku ngasih kado boneka sapi ke ulang tahun Maya, masa iya kali ini boneka lagi. Aku memang payah dalam hal memilih kado. Toko sakura merupakan tempat favorit buat mereka yang sedang mencari kado, yang datang lebih dominan cowok daripada cewek. Ini menandakan kalau cowok itu sebenernya lebih perhatian walau dalam realitanya cowok itu terlihat cuek sama pacarnya tapi gak semuanya benar.

                “kado seperti apa ya yang cocok?” Tanyaku dalam hati. Aku membuka browser di-handphone-ku dan mencari kado apa yang pas untuk ngerayain hari jadi.  Mataku berhenti di salah satu pilihan hadiah dan ku rasa ini memang hadiah yang tepat untuk kami. Sebuah cincin, sejak awal pacaran sampai sekarang aku belum pernah memberinya cincin. Pilihan terakhir aku mengambil sepasang cincin perak yang di dalamnya sudah terukir namaku dan juga Maya.

Saat berjalan menuju parkiran, aku kembali membuka handphone yang daritadi berdering tanda sebuah pesan masuk. Belum sempat membuka pesan masuk itu, tiba-tiba saja aku menabrak sesuatu yang membuatku hampir saja kehilangan keseimbangan. Aku melihat ke arah depan mencoba mencari tau siapa yang tadi ku tabrak, ternyata dia adalah seorang cewek seumuran dengan ku yang sudah ku kenali sebelumnya. Fila, tapi mataku hampir saja tak mengenalinya dia tampak berbeda setelah terakhir kali aku melihatnya di perpustakaan.

“Aduh..duh.. maaf ya pak.. maaf aku tadi gak liat jalan." Dia masih belum sadar siapa yang berada di depannya.

“Ehem, maaf kenapa? Lagian harusnya aku lagi yang meminta maaf kan aku yang salah. Dan satu lagi aku bukan bapak-bapak. Mengerti kamu? Hahaha”

“Eh ternyata kamu arya ihhhhh.” Wajah ovalnya kini terlihat memerah dan ternyata matanya yang bulat dan berwarna kecoklatan masih sama seperti dulu.

“Kamu mau beli apaan di dalam? Hadiah buat cowokmu ya? Ciyeeee….”

“Tidak kok, boro-boro pacar aja gak ada hehehe. Kamu habis beli cincin? Ciyeee..” Kini gantian dia yang menggangguku. Sekaran aku yang malah mulai merasa canggung.

“Errh itu…iya itu tadi aku beli di dalam.” Ah aku malah mulai terlihat gagu begini.

“Ciye kok malah jadi gugup begitu. Ya udah aku tinggal duluan ya. Aku mau ke tempat prakteknya mama di sebelah toko sakura tuh.” Dia menunjukkan salah satu tempat praktek dokter gigi. Oh, jadi ibunya seorang dokter gigi toh, gumamku.

Dia berpamitan lalu pergi meninggalkanku lebih dulu. Lalu aku juga bergegas pergi mengambil motorku yang tidak jauh dari situ. Kami berdua itu seperti dua buah kapal, kapal yang tersesat dalam satu samudera kecil sesekalinya bertemu itupun karena sebuah kebetulan. Lalu berhenti sejenak dan pergi lagi. Seolah sedang mencari tempat berlabuh yang pas tapi tak kunjung ditemukan.


Bersambung . . .

Nb : Gue jadi keasikan nih nulisnya jadi malas diselesein cepet-cepet. Hehehe  (Sorry ya, yang udah bosen hehehe)



Komentar

  1. lanjut...

    cewek emang gitu,selalu memaksa cowok untuk mengingat tanggal-tanggal yang penting kata Raditya Dika.

    Gue setuju sama Arya, cowok itu cuma kelihatannya aja cuek padahal perhatian juga.

    BalasHapus
  2. tanggal jadian itu lelucon buat gue wwkwkw mending inget tanggal merah aja hahaha

    BalasHapus
  3. kapalnya kayak rumor jga,yaa..tersesat krna tak tau arah jalan pulang..hihi

    BalasHapus
  4. Lama-lama ngerasa pernah di posisi Fila nih. Hmmm. Lanjut, Bang.

    BalasHapus
  5. wkwkwk disangka udah bapak bapak .
    lanjutin ya part selanjutnyaa ...

    BalasHapus
  6. ya, masih bersambung lagi? katanya gak panjang-panajang? kok masih bersambung lagi? :(

    BalasHapus
  7. ga ngebosenin kok..
    boleh ngasih saran? perhatikan lagi pemilihan katanya..
    kayak misal 'aku di kafe biasa nih, dengan arya.', mending 'dengan' itu diganti pake 'sama'
    terus besar kecilnya huruf juga lebih diperhatikan..
    ceritanya bagus kok..
    terusin aja =D

    BalasHapus
  8. cerita fiksi ya???
    apa hubungannya ceriita cinta mereka dengan kertas dan waktu ??

    BalasHapus
  9. kalo ketemunya secara enggak sengaja itu... pasti ada sensasi sesuatu yang cetar membahana *ehh

    BalasHapus
  10. pertemuan yg tidak disengaja itu yang bikin menegangkan .
    gua tunggu bang lanjutannya :))

    BalasHapus
  11. keburu penasaran sama endingnya :DDDD

    BalasHapus
  12. Mending u jadiin novel aj, bang

    BalasHapus
  13. @permaisuri : thanks ya mai masukannya :) lagi belajar masalahnya hehehe.

    @ahmad : takutnya entar malah gak diterima di penerbit nih mad :|

    semuanya thanks yah yang sempertin baca dan juga thanks masukannya :3

    BalasHapus
  14. hahahah ngapain juga ingat tanggal gitu an, emangt cewek termasuk mahluk gaib banget, mending ingat tanggal gajian

    BalasHapus
  15. Sekalian bikin jadi Sinetronn hahahaha

    Template lu jdi simple bangett...

    BalasHapus
  16. waaawww ini pertama kalinya saya baca cerbung di blog tanpa henti dari part 1 sampai part 5 ... kirain yang ini udah ending ternyata belum.. sambungannya mana?... tulisan kamu mengalir ringan dan intinya saya suka... kira2 Arya bisa bertahan sama Maya gak ya? atau malah nanti jadiannya sama Fila ya.. di tunggu part selanjutnya^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

AutoText or AutoAlay?

anomali rasa

cinta satu arah