kubus hexagonal

{google images}



Kau tau ada beberapa senja yang kini bersemayam dalam hatiku.

Yang semula satu kemudian menjadi seribu satu. Dia hidup dan tumbuh begitu cepat sedari kau ciptakan bahagia dengannya.

Ada kerinduan fana yang tak mungkin ku genggam diantara ribuan persimpangan.

Jalan yang selalu berujung pada tanda tanya. Masih adakah aku di tepi hatimu?

Mungkin aku yang terlalu bodoh untuk bisa menerima semua kenyataan dalam fantasi duniaku.

Aku menginginkan semua egoku ini menjadi perasaan utuh dalam kotak Pandora.

Kubus tak bernyawa yang kapan saja bias meledak tanpa tahu apa isinya. Tanpa tahu kau masih mengingatku atau hanya sekedar tau namaku, berikut dasi hitamku.

Masih percayakah kau puteri pada kecepatan cahaya yang mampu menembus langit aurora di kutub selatan?

Masih adakah cahaya hangat di matamu yang meminta kesederhanaan dalam sekedar berkata I love you semata?

Lalu siapakah aku dengan keberadaanku yang tak menjejeak nyata? Seperti anak panah yang melesat kian cepat tanpa menjejak bumi sekalipun?

Apakah itu aku?

Atau perasaanku?









Aku bingung berada di posisi ini. Diam dalam seribu Tanya tanpa ada jawaban dari dirimu, dari tepi hatimu. Kita berdua telah salah sejak awal. Kita bukan berada di waktu yang tepat untuk memadu semua hal manis ini. Bahkan jikalau aku harus merebut ketenangan dalam detik tiada henti.

Lalau siapa kita?

Yang coba dengan lancang mempermainkan waktu diatas ego tak mendasar. Dengan ketulusan hati yang sama seperti kemarin rasanya kita seperti berjalan di tempat yang sama dan di waktu yang tak berjalan sedetikpun. Bukan, dia bukannya takut akan kita. Dia hanya terpana akan kasih tulus kita yang telah dengan lancang melintas tiga dunia.

Dengan sengaja aku letakkan kebahagiaan ini diatas luka dan perih seseorang. Setitik noda dosa terpahat dalam satu kesucian penantian. Aku jingga didalam abu-abu yang meredupkan cahaya putih sang penepis lara hati.

Coba ku lihat keningmu. Ternyata masih ada bekas kecupan fana yang tertinggal dari seesorang yang berusaha memerankan orang terhianati di dalamnya. Berpura-pura pada luka-luka yang dibuat olehmu. Menangis dalam ketiadaan yang juga katanya olehmu.

Ini bukan sekedar siapa yang salah ataupun disalahkan. Ini semua akibat dari barisan garis waktu yang semula adalah maha keteraturan dan kini telah berantakan oleh potongan-potongan pengenal yang baru.


Lebur.

Dalam kebahagiaan yang sesungguhnya. Sekaligus pesakitan.

Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

AutoText or AutoAlay?

anomali rasa

cinta satu arah